Senin, 17 September 2012

Pengaruh DIFERENSIASI/STRATIFIKASI dan KONFLIK SOSIAL


Pengaruh diferensiasi sosial dan stratifikasi sosial
Pengaruh negatif, terjadinya DISINTEGRASI SOSIAL.
Pengaruh positif , mendorong terjadinya INTEGRASI SOSIAL.

A.     Pengaruh DIFERENSIASI

a.      Primordialisme
v  Pengertian:  pandangan atau paham yang menunjukkan sikap berpegang teguh pada hal-hal yang sejak semula melekat pada diri individu, sperti suku, bangsa, ras dan agama.
v  Dampak positif:  memperkuat ikatan golongan atau kelompok yang bersangkutan, terutama dalam menghadapi ancaman dari luar.
v  Dampak negatif:  membangkitkan prasangka dan permusuhan terhadap golongan atau kelompok sosial lain.
b.      Etnosentrisme
v  Pengertian: suatu sikap menilai kebudayaan masyarakat lain dengan menggunakan ukuran-ukuran yang berlaku di masyarakatnya. Konsekuensinya, orang akan selalu menganggap kebudayaannya memiliki nilai lebih tinggi daripada kebudayaan masyarakat lain.
v  Dampak positif: menjaga keutuhan dan kestabilan budaya, mempertinggi semangat patriotisme dan kesetiaan kepada bangsa, dan memperteguh rasa cinta terhadap kebudayaan atau bangsa.
v  Dampak negatif:  dapat menghambat hubungan antarkebudayaan atau bangsa, menghambat proses asimilasi dan integrasi sosial, bahkan dapat menjadi kekuatan yang terpendam yang dapat mengakibatkan konflik antargolongan atau kebudayaan (suku, agama, ras dan antargolongan atau SARA).
c.       Politik aliran (Sektarian)
v  Pengertian: keadaan di mana sebuah kelompok atau organisasi tertentu dikelilingi oleh sejumlah organisasi massa, baik formal maupun informal. Tali pengikat antar kelompok dan organisasi adalah ideologi atau aliran tertentu.
v  Dampak positif: mempererat relasi antar kelompok atau organisasi yang memiliki ideologi yang sama.
v  Dampak negatif: mengakibatkan jurang perbedaan antara kelompok-kelompok aliran yang berbeda.
d.      Konsolidasi
v  Pengertian: (consolidation: penguatan atau pengukuhan), usaha untuk menata kembali atau memperkuat suatu himpunan atau organisasi yang dinilai terancam perpecahan.
v  Dampak positif: menimbulkan rasa senasib, seperjuangan, dan solidaritas yang dapat memperkuat ikatan antaranggota himpunan.
v  Dampak negatif: menimbulkan sikap antipati dan kecurigaan terhadap organisasi lain. Penggalangan kekuatan dan identitas suatu kelompok dapat menjadi ancaman bagi kelompok lain, terutama bagi kelompok yang berlawanan.
e.      Interseksi
v  Pengertian: (intersection: sebuah titik pertemuan dari dua buah garis), persilangan antara dua himpunan atau lebih yang setiap anggotanya juga menjadi bagian dari dua himpunan atau lebih dari masing-masing himpunan tersebut. Proses interseksi sangat terlihat dalam sebuah organisasi sosial di mana di dalamnya terhimpun berbagai macam penggolongan atau perbedaan misalnya dari segi ras, agama, jenis kelamin, dll. Mereka terhimpun oleh persamaan tujuan dalam sebuah visi misi organisasi sehingga terbentuklah suatu kesatuan.
v  Dampak positif: mendorong terjadinya integrasi sosial.
v  Dampak negatif: jika terjadi fanatisme kelompok, maka dapat mendorong terjadinya konflik dengan kelompok yang berbeda visi dan misinya.

B.     Pengaruh STRATIFIKASI
Stratifikasi sosial menjadikan struktur masyarakat memiliki kesenjangan sosial, karena memuat lapisan-lapisan sosial masyarakat berdasarkan tinggi rendahnya kedudukan. Contohnya perbedaan hak dan penghasilan. Perbedaan ini sering kali memunculkan sikap penindasan terhadap kelompok lainnya. Kelompok masyarakat yang kedudukan yang lebih tinggi memiliki hak dan keuntungan serta fasilitas-fasilitas yang lebih nayak dibanding dengan kelompok-kelompok masyrakat yang menempati strata lebih rendah.

Primordialisme, etnosentrisme, politik aliran, konsolidasi bisa mendorong terjadinya KONFLIK dalam masyarakat.

C.     KONFLIK Sosial
v  Pengertian:
§  Latin, configere yang artinya “saling memukul”.
§  Kamus Besar Bahasa Indonesia, percekcokan, perselisihan, pertentangan.
§  Secara sosiologis, proses sosial antara dua orang atau lebih yang berusaha menyingkirkan pihak lain dengan cara menghancurkan atau membuatnya tidak berdaya.
§  Soerjono Soekanto, proses sosial individu atau kelompok yang berusaha memenuhi tujuannya dengan jalan menantang pihak lawan, yang disertai dengan ancaman atau kekerasan.
§  Lewis A. Coser, sebuah perjuangan mengenai nilai atau tuntutan atas status, kekuasaan, dan sumber daya yang bersifat langka dengan maksud menetralkan, mencederai, atau melenyapkan lawan.
§  Gilin dan Gillin, proses interaksi sosial manusia yang saling berlawanan (oppositional process).
§  Konflik lahir dari adanya perbedaan-perbedaan, misalnya ciri badaniah, emosi, kebudayaan, kebutuhan, kepentingan, atau pola-pola perilaku antarindividu atau kelompok dalam masyarakat.
v  Pandangan tentang konflik:
§  Tradisional: konflik negatif karena dapat merusak solidaritas sosial.
§  Modern: konflik positif karena hidup menjadi dinamis.
§  Netral: konflik merupakan hal yang wajar karena manusia berbeda-beda sehingga akan timbul konflik.
v  Faktor-faktor penyebab konflik:
§  Perbedaan antaraindividu
§  Perbedaan kebudayaan
§  Perbedaan kepentingan
§  Perubahan sosial
v  Bentuk-bentuk konflik
§  Konflik horizontal: konflik antarkelompok yang sederajat. Contoh tawuran antar pelajar.
§  Konflik vertikal: konflik antar kelas sosial. Contoh demonstrasi karyawan terhadap pimpinan.
§  Konflik diagonal: konflik yang terjadi karena ketidakadilan dalam alokasi sumber daya. Contoh konflik antara pemerintah daerah dan masyarakat dalam pengaturan penggunaan air dari sumber mata air.
§  Konflik rasial: konflik antarkelompok yang berbeda ras. Contoh konflik antara orang kulit putih dan kulit hitam.
§  Konflik ekonomi. Contoh persaingan yang tidak sehat antar perusahaan dalam mempromosikan barang.
§  Konflik antarindividu: si A berkelahi dengan si B karena memperebutkan pacar.
§  Konflik tertutup: konflik hanya diketahui oleh pihak-pihak yang terlibat di dalam konflik.
§  Konflik politik: konflik antarpartai politik.
§  Lewis A. Coser
o   Konflik realistis dan Konflik nonrealistis. Konflik realistis berasal dari kekecewaan individu atau kelompok terhadap sistem dan tuntutan-tuntutan yang terdapat dalam hubungan sosial. Contoh pemogokan kerja karyawan. Konflik nonrealistis berasal dari tujuan-tujuan persaingan yang antagonistis atau berlawanan. Contoh balas dendam dengan ilmu gaib.
o   Beda konflik in-group, yaitu konflik yang terjadi di dalam kelompok itu sendiri atau antaranggota dalam suatu gen dan out-group, konflik yang terjadi antara suatu kelompok dan kelompok lain.

§  Dahrendorf
     4 macam konflik, yaitu:
o   Peranan-peranan sosial
o   Kelompok-kelompok sosial
o   Kelompok-kelompok sosial yang terorganisasi dan tidak terorganisasi
o   Satuan nasional (partai politik, antara negara-negara, organisasi-organisasi internasional)
§  Soerjono Soekanto
      Lima bentuk khusus konflik atau pertentangan:
o   Pribadi
o   Rasial (perbedaan-perbedaan ras)
o   Antara kelas-kelas sosial
o   Politik
o   Bersifat internasional
§  Ursula Lehr
      Dari sudut psikologi sosial, yaitu
o   Konflik dengan orangtua sendiri
o   Konflik dengan anak-anak sendiri
o   Konflik dengan keluarga
o   Konflik dengan orang lain
o   Konflik dengan suami atau dengan istri
o   Konflik di sekolah
o   Konflik dalam pemilihan pekerjaan
o   Konflik agama
o   Konflik pribadi


v  Dampak sebuah konflik
§  Dampak positif:
o   Lewis A. Coser, konflik dapat memperkuat struktur hubungan-hubungan sosial.
o   Konflik memperjelas aspek-aspek kehidupan yang belum jelas (beda pendapat dalam diskusi).
o   Penyesuaian kembali norma-norma, nilai-nilai, serta hubungan-hubungan sosial sesuai dengan kebutuhan.
o   Meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok (in group solidarity) yang sedang berkonflik.
o   William F. Ogburn dan Mayer Nimkoff, ”semakin besar permusuhan terhadap kelompok luar, semakin bnesar pula integrasi atau solidaritas internal kelompok.”
o   Jalan mengurangi ketergantungan antarindividu dan kelompok.
o   Menghidupkan kembali norma-norma lama dan menciptakan norma-norma baru.
o   Sarana  mencapai keseimbangan antara kekuatan-kekuatan yang ada di dalam masyarakat.
o   Memunculkan sebuah kompromi baru apabila pihak yang berkonflik berada dalam kekuatan yang seimbang.
§  Dampak negatif:
o   Keretakan hubungan antarindividu dan kelompok.
o   Kerusakan harta benda dan hilangnya nyawa manusia.
o   Berubahnya kepribadian individu.
o   Munculnya dominasi kelompok pemenang atas kelompok yang kalah.

v  Beda KONFLIK dan KEKERASAN
§  Konflik selalu diserta dengan luapan-luapan perasaan tidak suka, benci dan amarah yang kemudian menimbulkan keinginan untuk menghancurkan lawan atau pihak lain.
§  Kekerasan adalah perwujudan keinginan menghancurkan lawan. Dapat dikatakan bahwa kekerasan adalah bentuk lanjutan dari konflik.
§  Kamus Besar Bahasa Indonesia, kekerasan adalah perbuatan seseorang atau kelompok yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain, atau menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain.
§  Bentuk kekerasan, KEKERASAN LANGSUNG (direct violence) dan KEKERASAN TIDAK LANGSUNG (indirect violence). Kekerasan langsung, yaitu pembunuhan, pemerkosaan, dll. Kekerasan tidak langsung, yaitu mengekang, mengintimidasi, memfitnah, dan meneror orang lain.
§  Secara sosiologis, kekerasan terjadi saat individu atau kelompok orang yang berinteraksi mengabaikan norma dan nilai-nilai sosial dalam mencapai tujuan masing-masing.
§  N.J. Smeler, kekerasan bersifat massal atau kerusuhan. Menurutnya ada 5 tahap kronologis (berurutan) terjadinya kerusuhan:
o   Disebabkan oleh struktur sosial tertentuu, seperti tidak adanya sistem tanggungjawab yang jelas, dll.
o   Tekanan sosial, yaitu suatu kondisi saat sejumlah besar anggota merasa bahwa banyak nilai dan norma yang sudah dilanggar.
o   Berkembangnya perasaan benci yang meluas terhadap suatu sasaran tertentu.
o   Mobilisasi untuk beraksi, yaitu tindakan nyata berupa pengorganisasian diri untuk bertindak.
o   Kontrol sosial, yaitu tindakan pihak ketiga seperti aparat keamanan untuk mengendalikan, mengendalikan, mengakhiri kekerasan/kerusuhan.

v  Teori-teori tentang Kekerasan
§  Teori faktor internal
Setiap perilaku kelompok, termasuk perilaku kekerasan, selalu berawal dari perilaku individu. Agresivitas perilaku seseorang dapat menyebabkan timbulnya konflik dan kekerasan. Faktor penyebab adalah faktor pribadi dan sosial. Faktor pribadi meliputi, kelainan jiwa. Faktor sosial, konflik rumah tangga, faktor budaya, faktor media massa.
§  Teori faktor kelompok
Individu cenderung membentuk kelompok dengan mengedepankan identitas berdasarkan persamaan ras, agama atau etnik. Identitas kelompok cenderung dibawa ketika berinteraksi dengan orang lain. Benturan antara identitas kelompok yang berbeda sering menjadi penyebab konflik.
§  Teori dinamika kelompok
Kekerasan timbul karena adanya DEPRIVASI RELATIF atau kurang rasa memiliki yang terjadi di dalam masyarakat.

v  Cara pengendalian konflik
§  3 syarat:
1.      Sadar akan adanya situasi konflik yang terjadi.
2.      Berbagai kekuatan sosial yang saling bertentangan itu terorganisasi dengan jelas.
3.      Tiap kelompok harus mematuhi aturan-aturan main yang telah disepakati bersama.
§  Cara produktif
1.      Withdrawal, menunggu sambil berusaha memahami situasi, setelah kira-kira mampu dan yakin dapat berhasil, baru melangkah untuk mengatasinya.
2.      Assertif, berusaha mengatasi secara tegas dan dengan cara yang baik, serta berusaha membina hubungan yang baik dengan pihak lain ditandai dengan adanya kemauan baik untuk saling mengerti.
3.      Adjusting, berusaha menyesuaikan diri dengan pihak lain.
§  Cara tidak produktif
1.      Avoidance, menghindar dari konflik.
2.      Force, menggunakan kekuatan fisik, ancaman, teror, dan paksaan.
3.      Mengabaikan adanya konflik.
4.      Blame, menyalahkan orang lain karena sumber konflik tidak jelas.
5.      Silencers, bersikap supaya orang lain diam dengan cara menangis, menggunakan kata-kata yang menyinggung masalah pribadi.
§  Cara-cara lain
1.      Win-win solution, setiap pihak ingin menang.
2.      Win-lose solution, salah satu ada yang mengalah.
3.      Lose-lose solution, kedua pihak sama-sama mengalah.
§  Tiga macam pengendalian konflik:
1.      KONSILIASI
-         Dilakukan melalui lembaga-lembaga tertentu yang memungkinkan diskusi dan pengambilan keputusan yang adil di antara pihak-pihak yang bertikai.
-         Kriteria lembaga konsiliasi:
a.      Lembaga yang otonom.
b.      Kedudukan bersifat monopolistis, artinya hanya lembaga itula yang berfungsi demikian.
c.       Berperan agar kelompok yang bertikai merasa terikat kepada lembaga tersebut.
d.      Bersifat demokratis, setiap pihak harus diberi kesempatan untuk menyatakan pendapatnya sebelum keputusan tertentu diambil.
2.      MEDIASI
-         Pengendalian konflik dengan cara mediasi dilakukan apabila kedua pihak yang berkonflik sepakat untuk menunjuk pihak ketiga sebagai mediator.
3.      ARBITRASI
-         Arbitrasi atau perwasitan umumnya dilakukan apabila kedua belah pihak yang berkonflik sepakat untuk menerima atau terpaksa menerima hadirnya pihak ketiga yang akan memberikan keputusan-keputusan tertentu untuk menyelesaikan konflik.
4.      MAJORITY RULE; keputusan yang diambil berdasarkan suara terbanyak dalam voting.
5.      STALEMATE; berhenti pada titik tertentu karena kekuatan seimbang.
6.      ELIMINATION; pengunduran diri salah satu pihak yang terlibat konflik.
7.      INTEGRATION; mempertimbangkan kembali pendapat-pendapat sampai diperoleh suatu keputusan yang memaksa semua pihak.
8.      Pendapat George Simmel
-         Kemenangan salah satu pihak atas pihak lainnya.
-         KOMPROMI atau perundingan di antara pihak-pihak yang bertikai sehingga tidak ada pihak yang sepenuhnya menang dan tidak ada pihak yang merasa kalah.
-         REKONSILIASI. Mengembalikan suasana persahabatan dan saling percaya.
-         Saling memaafkan.
-         Kesepakatan untuk tidak berkonflik.
9.      Cara-cara lain
-         Menyogok atau menyuap salah satu pihak yang berkonflik.
-         Menggunakan pihak ketiga (arbitrasi).
-         Menggunakan aturan yang ketat.

D.    INTEGRASI SOSIAL
v  Pengertian
§  KBBI: pembauran sesuatu yang tertentu menjadi kesatuan yang utuh dan bulat.
§  Sosiologis: proses penyesuaian unsur-unsur yang berbeda dalam masyarakat sehingga menjadi satu kesatuan. Unsur-unsur tersebut meliputi perbedaan kedudukan sosial, ras, etnik, agama, bahasa, kebiasaan, sistem nilai dan norma.
§  Abu Ahmadi: kerjasama dari seluruh anggota masyarakat, mulai dari tingkat individu, keluarga, lembaga, dan masyarakat sehingga menghasilkan konsensus (kesepakatan) nilai yang sama-sama dijunjung tinggi.
§  Abdul Syani: pengembangan sikap solidaritas dan perasaan manusiawi.
§  Banton: pola hubungan yang mengakui adanya perbedaan ras dalam masyarakat.
§  F. Ogburn dan Mayer Nimkoff, syarat terjadinya integrasi sosial:
-         Anggota-anggota masyarakat merasa bahwa mereka berhasil saling mengisi kebutuhan-kebutuhan mereka.
-         Masyarakat berhasil menciptakan kesepakatan bersama mengenai norma dan nilai-nilai sosial.
-         Norma-norma dan nilai-nilai sosial itu berlaku cukup lama, tidak mudah berubah, dan dijalankan secara konsisten.
§  Faktor-faktor penentu cepat atau lambatnya suatu integrasi sosial berlangsung:
-         Homogenitas kelompok (tingkat kemajemukan rendah).
-         Besar kecilnya kelompok.
-         Mobilitas geografis (daerah atau suku terisolasi, integrasi sosial dapat cepat terjadi).
-         Efektivitas komunikasi.

v  Bentuk-bentuk Integrasi Sosial
Integrasi sosial dapat terjadi dalam tiga bentuk:
§  Integrasi normatif; terjadi akibat adanya norma-norma yang berlaku di masyarakat. Contoh bangsa Indonesia dipersatukan oleh prinsip Bhineka Tunggal Ika.
§  Integrasi fungsional; terbentuknya karena ada fungsi-fungsi tertentu dalam masyarakat. Contoh Indonesia terdiri dari bermacam-macam suku mengintegrasikan dirinya dengan melihat fungsi dari masing-masing suku yang ada.
§  Integrasi koersif; terbentuk berdasarkan kekuasaan yang dimiliki penguasa. Contoh perusuh yang berhenti mengacai karena polisi menembakkan gas air mata ke udara.

Proses integrasi:
§  Asimilasi (assimilation), yaitu proses sosial yang ditandai dengan adanya usaha-usaha untuk mengurangi perbedaan-perbedaan yang ada di antara individu atau kelompok dalam masyarakat.
§  Akulturasi, yaitu proses perubahan yang ditandai dengan terjadinya penyatuan dua kebudayaan yang berbeda. Penyatuan tersebut menyebabkan kebudayaan yang satu hampir menyerupai kebudayaan yang lain. Namun, masing-masing kebudyaan masih mempertahankan ciri khasnya.
§  Kebudayaan asing akan relatif mudah diterima apabila memenuhi syarat-syarat berikut ini:
-         Tidak ada hambatan geografis.
-         Memberikan manfaat yang lebih besar.
-         Ada persamaan dengan unsur-unsur kebudayaan lama.
-         Adanya kesiapan pengetahuan dan keterampilan tertentu.
-         Kebudayaan bersifat kebendaan.

v  Faktor-faktor pendorong integrasi sosial
§  Adanya toleransi terhadap perbedaan.
§  Kesempatan yang seimbang dalam ekonomi.
§  Sikap saling menghargai orang lain.
§  Sikap terbuka.
§  Persamaan dalam unsur-unsur kebudayaan.
§  Perkawinan campuran (analgamation).
§  Adanya musuh bersama dari luar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar